Saturday, October 3, 2009

struktur bangunan tahan gempa, seperti apa?

masih dari anisavitri.wordpress.com :

Gempa tanpa korban jiwa. Bata terlemah, beton bertulang terkuat hadapi gempa.

Bisakah tukang2 “tradisional” membuat bangunan tahan gempa ? Bisa ! Itu ditegaskan Suwandojo Siddiq, professor riset ahli bidang struktur bangunan dan teknologi gempa dari Puslitbang Permukiman. Dalam mengantisipasi gempa bumi, bangunan yang sudah ada maupun yang belum, harus disiasati agar menjadi tahan gempa. Bagi bangunan baru, harus didesain menggunakan bahan2 yang daktail atau ulet. Daktail adalah istilah dalam dunia pergempaan, yaitu kemampuan menahan daya berulang-ulang tanpa rusak. Hindari menggunakan bahan2 yang berat dan tidak daktail.

RISHA ( Rumah Instan Sederhana Sehat ) dirancang tahan gempa.

RISHA ( Rumah Instan Sederhana Sehat ) dirancang tahan gempa.

Pasangan bata sangat tidak daktail. Dari seluruh bahan bangunan, yang paling tidak tahan gempa adalah pasangan bata. Sedangkan yang paling bagus ( tahan gempa ) adalah beton bertulang. Kemudian, diantara keduanya ada kayu. Namun, pasangan bata dan juga conblock, yang perilakunya sangat jelek terhadap gempa ( gampang roboh ), jika dikawinkan dengan besi atau beton tulangan ( bisa tulangan dari kayu ) jadi bagus juga. Itu yang disebut reinforce masonry. Seperti kaca yang tidak mudah pecah karena diberi bingkai.

Jelas peneliti senior yang punya inisial resmi Swd ini, prinsipnya ; gaya yang menarik ditahan oleh besi, yang menekan ditahan pasangan bata. Sebab, pasangan bata kuat tekan, tidak kuat tarik. Besi kuat tarik, tidak kuat tekan. NES ( non engineer structure ) adalah bangunan rakyat yang dikerjakan tukang2 biasa. Kalau terpaksa menggunakan pasangan bata, pada pojok-pojoknya dipasang besi. Idealnya, setiap 8 m2 ada kolom. Misal, dinding setinggi 3 meter dipasang kolom tiap 2,5 meter. Dengan begitu, kalau terjadi gempa tidak roboh. Gempa itu sendiri tidak membunuh. Bangunan robohlah yang banyak menewaskan manusia. Kalau kolomnya kayu, antara kayu dengan pasangan bata dipasang angker, dengan besi 6 mm dan panjang ½ meter.

Pada bangunan tinggi, kesalahan banyak terjadi pada sistem detail tulangan. Kuncinya, pada join-joinnya, pertemuan kolom dan balok, di dalamnya harus ada sengkang yang berfungsi sebagai penguat, penahan join. Sayang sekali, banyak bangunan bertingkat yang tidak bersengkang.”Bangunan STIE Yogya roboh kenapa ? Tidak ada sengkangnya. Tapi coba perhatikan gedung UII Yogya, tidak ada yang retak, strukturnya utuh, kenapa ? Karena ada sengkang atau begelnya, yang dipasang dengan benar,” ungkap Swd.

Toko2 roboh karena tidak semetris kekakuan dan kekuatan kolomnya

Satu hal yang harus diperhatikan, bidang2 bangunan harus simetris. Banyak bangunan yang bagian belakang rapat berdinding, tetapi bagian depannya los tanpa dinding. Kalau terjadi gempa, bangunan seperti itu akan terpelintir. Itu sebabnya, banyak toko yang roboh saat gempa.

Tetapi bukankah toko memang harus dibuka bagian depannya ? Buatlah kekakuan di bagian depan seimbang dengan bagian belakang. Buatlah kolom beton di pojok2 bagian depan. Yang terpenting adalah kesimetrisan antar kekakuan dan kekuatan kolom, tambah Swd memberi solusi.

Gempa tidak membunuh, kelalaian manusia adalah pembunuhnya.

Gempa di Yogyakarta waktu itu sekitar 150 gal. Ukuran gempa dalam kaitannya dengan bangunan memakai Gal, yaitu percepatan dalam satuan cm/ detik2. Ukuran Skala Richter adalah energi yang dilepas di sumber gempa, sedang getarannya yang sampai ke lokasi dihitung dengan satuan Gal. Kekuatan gempa di Padang, Sumatera Barat, beberapa waktu lalu, sekitar 200 gal. Hendaknya bangunan2 yang ada di mana saja saat ini dicek, bagian mana yang belum sempurna disempurnakan, mengingat wilayah Indonesia sangat rawan gempa.

Korban gempa tektonik Yogya tahun 2006 dengan 5,9 SRKorban gempa tektonik Yogya tahun 2006 mencapai 5,9 SR

Seharusnya gempa tidak perlu menelan korban jiwa. Ketika gempa di Tanto, Jepang, tahun 1919, jatuh korban 150.000 meninggal dunia. Namun ketika terjadi gempa lagi 80 tahun kemudian, tidak ada yang meninggal. Yang luka pun hanya 2 orang. Padahal bangunannya makin tinggi.

Dengan kekuatan gempa sebesar di Yogyakarta waktu itu, seandainya bangunan2 didirikan secara benar, berapa persen kira2 resiko dapat terkurangi ? “O, Insya Allah, kalau ada gempa segede itu pun tidak akan terjadi apa2,” kata Suwandojo menyakinkan. ( Kiprah )

Dan gempa Jawa Barat, Rabu ( 2/9/2009 ) lalu, menelan korban tewas lebih dari 82 orang, ribuan orang luka, ratusan ribu rumah dan sekolah rusak. Jika gempa tidak membunuh, maka kelalaian manusia mengantisipasi gempa ( diantaranya membuat bangunan tahan gempa dan mengetahui cara yang benar mengevakuasi diri ), yang menjadi biang keladi korban tak perlu itu.

No comments:

Post a Comment